Tanjung Selor – Memasuki hari ke-13 puasa Ramadhan 1443H, jalan-jalan sore yang familiar disebut “ngabuburide” masih intens dilakukan warga Tanjung Selor sambil berburu jajanan makanan sebagai menu takjil. Kebutuhan bahan pangan baik olahan maupun pangan segar, termasuk makanan yang jadi untuk menu sahur dan buka puasa mengalami peningkatan. Di tengah lonjakan harga pangan, salah satunya harga bawang merah yang melejit hingga kisaran Rp.45.000,-/kg dan meningkatnya permintaan konsumen, memicu dugaan peredaran bahan pangan maupun makanan yang mengandung zat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Ditambah lagi akses untuk mendapatkan pangan selama Ramadhan dimudahkan karena hampir disegala sudut penjuru jalan disesaki pedagang makanan dan minuman dadakan, sehingga konsumen perlu bijak dalam memilih makanan yang aman dan higienis dengan kualitas baik. Berikut beberapa tips dalam membeli bahan pangan atau makanan yang aman di bulan puasa :
- Cek kemasan dan izinnya
Pastikan bahan pangan maupun makanan kemasan yang akan dibeli aman untuk dikonsumsi. Cek dengan teliti pada kemasan makanan atau minuman, seperti perhatikan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) maupun Dinas Kesehatan (Dinkes), tanggal kadaluwarsa maupun tulisan best before atau sebaiknya digunakan sebelum, dan label halalnya.
Jangan lupa juga, cek kemasannya. Jika sudah rusak, cacat, penyok, kempot, atau menggembung, jangan dibeli. Perlu diketahui, untuk bahan pangan yang dijajakan dari toko ritel modern, untuk produk makanan atau minuman yang tanggal kadaluwarsanya masih jauh atau lama, biasanya diletakkan di bagian belakang.
- Cek warna dan bau

Pastikan bahan pangan maupun makanan jadi yang akan dibeli tidak tercemar bahan berbahaya. Biasanya orang lebih tergoda membeli makanan atau minuman dengan warna yang lebih terang. Padahal bisa saja justru itu mengandung zat kimia berbahaya bagi tubuh, seperti pewarna tekstil yang tidak aman untuk dikonsumsi.
Jadi kalau warna makanan atau minuman, misalnya terlalu merah, kuning, atau hijau, tinggalkan saja. Begitupula dengan baunya. Hindari jika baunya terlalu menyengat dan tekstur terlalu kenyal karena kemungkinan mengandung borak.
- Waspada terhadap pemanis buatan
Terkadang pedagang berprinsip untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal, yaitu dengan cara meminimalkan harga bahan pangan yang akan diolah, salah satunya gula sebagai bahan agar makanan minuman menjadi manis. Harga pemanis buatan lebih murah jika dibandingkan dengan gula pasir atau gula kristal dan rasanya juga lebih manis. Bahaya penggunaan pemanis buatan berlebihan bisa membuat radang tenggorokan dan terkadang rasanya beda dengan pemanis gula pada umumnya, yaitu agak sepet/pahit dan terkadang berbau lebih menyengat.
- Pilih kemasan yang aman dan sehat

Pengemasan makanan menggunakan kantong plastik, styrofoam, koran atau buku bekas merupakan ciri khas orang Indonesia. Misalnya saja dengan styrofoam, itu jelas-jelas sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh karena mengandung beberapa zat kimia, seperti benzene dan styrene yang dapat memicu terjadinya kanker. Apalagi styrofoam ini digunakan sebagai wadah makanan terbuka, panas, dan berlemak tinggi, contohnya gorengan.
Selain itu, koran bekas untuk membungkus beberapa jajanan juga dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan. Sebab tinta koran bisa meleleh dan meresap ke gorengan yang masih panas. Nah coba bayangkan, tinta yang mengandung zat kimia berbahaya masuk ke dalam tubuh lewat gorengan? Resikonya bisa kena penyakit kanker.
Sudah pakai koran bekas, makanan ditempatkan lagi di kantong kresek hitam. Bisa dibayangkan penyakit yang dapat bersarang di tubuh yang mengkonsumsi. Selain itu, kantong plastik hitam berasal dari proses daur ulang yang ditambahkan zat kimia. Sudah berbahaya bagi tubuh, merusak lingkungan pula karena tidak dapat terurai dengan cepat.
Jadi perlu menjadi perhatian bagi pedagang untuk dapat menyediakan kemasan sehat dan aman untuk membungkus makanan antara lain kemasan kaleng, berbahan aluminium foil, berbahan plastik food grade, berbahan karton box, kemasan berbahan kertas (karton virgin fiber dan karton food grade).
- Pastikan nama dan alamat si produsen

Biasanya di kemasan makanan atau minuman olahan, tercantum nama dan alamat produsen atau pabrikan yang memproduksinya. Pastikan semua informasi itu jelas tertera di kemasan. Hal ini akan memudahkan jika ingin melakukan komplain. Perusahaan atau produsen yang baik, pastinya akan menindaklanjuti setiap komplain dari konsumen.
Untuk makanan yang berasal dari produksi rumahan, dapat ditanyakan langsung pada pedagang saat transaksi jual-beli, karena biasanya tidak tercantum produsen jajanan pasar sebagaimana jajanan kemasan yang teregistrasi.
Bila tips diatas telah dilakukan namun masih ragu dengan makanan atau minuman diluaran, lebih baik membuat jajanan sehat, aman dan higienis dengan olahan sendiri
Menu hidangan yang diolah sendiri akan dapat lebih terjamin keamanannya. Selain lebih sehat, hemat pula karena ongkosnya lebih murah ketimbang jajan. Tapi pastikan juga memilih bahan pangan yang bermutu dan mengolahnya dengan baik agar makanan yang disajikan aman untuk dikonsumsi. #HappyFasting (Kesling/Mira*)






