Capaian Program Indonesia Sehat Dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) dan Index Keluarga Sehat (IKS) Tahun 2022

Bagikan

 

Tanjung Selor, – Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS PK) adalah suatu pendekatan pelayanan kesehatan yang menggali faktor resiko terjadinya penyakit dalam suatu keluarga dan menilai status kesehatan keluarga, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk Indeks Keluarga Sehat (IKS). Nilai IKS ini merupakan akumulasi dari nilai 12 indikator PIS PK dan dikategorikan ke dalam 3 kelompok, yakni Keluarga Sehat bila nilai IKS > 0,8 (80%), Keluarga Pra Sehat bila nilai IKS 0,5 <-> 0,8 ( 50% s/d 80% ) dan Keluarga Tidak Sehat bila nilai IKS < 0,5 (50%).

Sejak akhir tahun 2021 sampai tahun ini (2022) capaian index keluarga sehat di kabupaten bulungan sebesar 0,29% (naik 0,02% dari semester awal tahun 2021 yaitu sebesar 0,27%) walaupun masih dalam kategori TIDAK SEHAT namun dengan capaian ini kabupaten Bulungan menetapkan posisi urutan ke I (satu) dengan iks terbesar se-Provinsi Kalimantan Utara. terlepas dari besaran capaian IKS yang diperoleh masih banyak hal yang harus di capai, terutama beberapa indicator yang masih memerlukan perhatian lebih. Adapun indicator yang sangat membutuhkan perhatian dan intervensi lanjutan dari puskesmas maupun program di Dinas Kesehatan yaitu indicator gangguan jiwa, Tuberkulosis paru, rokok, Hypertensi, Keluarga Berencana (KB), JKN dan ASI Exklusif.

Index Keluarga Sehat (IKS) Se-Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2021 dengan nilai IKS sebesar  25%

Index Keluarga Sehat (IKS) Se-Kabupaten Bulungan Tahun 2021 dengan nilai IKS sebesar 29%

 

Adapun beberapa faktor penyebab atau kendala yang sering di temukan dalam hal intervensi awal dan Intervensi Lanjut guna meningkatkan Index Keluarga Sehat adalah sebagai berikut:

  1. Ganguan jiwa 32,35% 
  • Stigma negatif dari masyarakat
  • Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan jiwa dan cara pengobatannya
  • Tidak ada dukungan penuh dari keluarga dalam proses penyembuhan pasien
  • Kesalahaan petugas saat mendata di awal (salah menafsirkan DO)

 

  1. Tuberkolosis Paru 43,68%
  • Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit TB.
  • Kesalahan petugas dalam memahami Defenisi Oprasional (DO) dan tekhnis pengisian di aplikasi Keluarga Sehat

 

  1. ROKOK, 45,57%
  • Rokok sudah menjadi kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan dalam kehidupan sehari-hari meskipun perokok sudah mengetahi tentang bahaya merokok bagi perokok aktif maupun perokok pasif.
  • Tidak ada layanan konseling untuk masyrakat yang ingin berhenti merokok.
  • Budaya masyarakat yang selalu menyuguhkan rokok di berbagai acara kemasyarkatan.

 

  1. Hypertensi, 52,17%
  • Pengetahuan masyarakat kurang terhadap penyakit hipertensi.
  • Perilaku masyarakat berisiko menimbulkan hipertensi.
  • Masyarakat enggan untuk berobat secara teratur.
  • Masyarakat enggan menggunakan pelayanan kesehatan (POSBINDU)

 

  1. Keluaraga Berencana (KB), 55,36%
  • Masih sering di jumpai oleh petugas masyarakat enggan untuk ber KB karena bertentangan dengan Agma tertentu.
  • Motto “banyak anak banyak rezeki” sudah melekat di masyarakat.
  • Ketakutan masyarakat terhadap efek samping dari obat-obatan KB.

 

  1. Angoota Keluarga Mempunyai JKN, 60,62%
  • Kurangya kesadaran masyarakat akan pentingya JKN.
  • Masyarkat enggan menjadi peserta karena iuranya lumayan mahal terlebih bagi mereka yang memiliki anggota kelurga yang banyak.
  • Peserta PBI sering dijumpai data kepesertaanya tidak aktif.
  • Stigma negative masyarakat terhadap suatu layanan kesehatan yang menggunakan Jaminan Kesehatan (masyarakat sering mengeluh tentang pelayanan yang buruk bagi pengguna JKN).
  • Terdapat keluarga yang terdaftar memiliki JKN namun tidak mengetahui karena tidak memiliki kartu JKN dan informasi dari pihak terkait

 

  1. ASI Exklusif, 78,05% tahun
  • Minimnya kesadaran seorang ibu atas pentingnya ASI bagi pertumbuhan anak.
  • ASI tidak lancar

 

(Karim/YSDK)